Aku dan Sahabatku

Oleh: AF

Panggil saja aku Bulan, dan perkenalkan sahabatku Bintang. Kami adalah mahasiswi semester akhir yang sedang berjuang untuk mengenakan toga di penghujung tahun. Karena satu kelas di kampus dan satu kamar di asrama, kami selalu bersama seperti sepasang sandal. Di mana sandal bagian kanan tak terpisahkan dengan bagian kirinya.

Singkat kata, aku berhasil menyelesaikan tugas akhir dengan baik. Sayangnya, tugas akhir Bintang masih jalan di tempat. Aku orang yang berpendapat meskipun deadline pekerjaan masih jauh, tapi menunda pekerjaan hari ini sama saja dengan menumpuk masalah untuk esok hari. Akhirnya dengan senang hati, aku membantu dan memotivasi Bintang agar semangat lagi.

Aku mendampingi Bulan mulai dari mengunjungi perpustakaan, mencari data pendukung, mengantar bimbingan ke dosen pembimbing, hingga menemani revisi semalaman. Sebelumnya, aku disibukkan dengan tugasku sendiri, sekarang setelah tugasku selesai, kini aku lebih focus membantu Bintang. Berhari-hari aku perhatikan, kemajuan tugas akhir bintang tidak terlihat signifikan. Padahal berjam-jam aku di sampingnya, memastikan ia menyelesaikan impiannya. Ada yang aneh pada diri Bintang, lebih banyak diam, melamun, lengkap dengan tatapan kosong.

Antara Skripsi dan Trauma

Aku tiduran santai di samping Bintang sembari membaca novel kesukaanku, Dilatasi Memori. Bintang yang katanya malam itu hendak melanjutkan revisi hanya mematung di depan laptop yang menyala. Aku tidak bisa diam lagi, aku pegang tangannya, aku tatap wajahnya, dan aku bertanya apa yang terjadi sebenarnya.

Tiba-tiba Bintang meneteskan air mata. Apa? Aku tidak percaya ia menangis hanya karena pertanyaan sederhana yang aku ajukan. Ini berarti masalahnya serius. Aku biarkan dia menangis hingga selesai. Setelah tenang, aku kembali bertanya ada apa. Awalnya Bintang ragu menjawabnya, tapi berkat kehangatan tangan dan tatapanku akhirnya dia mau bersuara.

“Aku tidak bisa lagi melanjutkan skripsi ini, Bulan. Bukan karena aku menyerah, tapi karena aku tidak lagi bisa bersikap pasrah. Tahukah kamu, setiap kali datang aku bimbingan ke Pak Matahari kamu hanya bisa mengantar sampai depan ruangannya saja, ini karena memang beliau tidak mengizinkan kita masuk berdua. Hal itu bukan agar aku bisa lebih fokus bimbingan, tapi supaya dia lebih leluasa melecehkanku.” Jelas Bintang panjang lebar.


Aku terkejut dan membelalakkan mata. Marah. Marah. Marah.

Aku terkejut dan membelalakkan mata. Marah. Marah. Marah. “Kenapa kamu diam? Diapakan kamu selama ini?” tanyaku menggebu penuh emosi. “Awalnya bimbingan seperti biasa. Lalu selanjutnya Pak Matahari mulai mendekat ke arahku, menggeser mejanya hingga aku berhadapan langsung dengannya. Dari situ, Pak Matahari mulai meraba payudara, paha, dan kemaluanku. Katanya, ‘jika aku berteriak atau menyebarkan perlakuannya, maka bisa dipastikan aku akan di DO dan juga dipenjara’, cerita Bintang dengan air mata yang sudah kering karena sudah terkuras habis berjam-jam.

“Kurang ajar, tidak bisa kita diamkan. Kamu istirahatlah, urusan skripsi nanti kita bahas belakangan. Biarkan malam ini aku begadang menyusun rencana balas dendam,” ucapku mengakhiri cerita pilu Bintang malam itu.

Laporkan dan Suarakan

Selanjutnya, aku meminta bantuan tim jurnalistik kampus untuk melakukan investigasi jumlah korban Pak Matahari. Seperti yang Bintang ceritakan, aku juga bercerita secara detail dan sama. Semua kaget tentang kasus ini dan merasa tidak percaya. Akhirnya setelah sekian lama menunggu, aku memiliki data tentang korban-korban Pak Matahari. Dengan gagah berani aku menghadap dosen satu per satu yang aku anggap bisa dipercaya, lalu ketua program studi, dan selanjutnya dekan fakultas.

Semua nama korban dirahasiakan, aku sampaikan modusnya, motifnya, dan juga alurnya. Ada yang terperangah dan ada yang membeku hebat. Detik itu, skandal Pak Matahari terbongkar. Tim jurnalistik kampus dengan khusus mengisi buletin dan majalah kampus dengan mengangkat tema “STOP PELECEHAN SEKSUAL.” Dicoretnya nama Pak Matahari, menjadi bukti bahwa tidak ada tempat di manapun di dunia ini bagi pelaku pelecehan seksual, kecuali di penjara.

Jangan pernah diam ketika mendapatkan pelecehan. Bersuaralah pada orang terdekat dan terpercaya. Karena diam hanya membuat pelaku pelecehan bebas berkeliaran untuk menodai korban-korban selanjutnya. Siapa pun kita, sebagai penyintas atau saksi ataupun bukan keduanya, tetap perangi kekerasan pada perempuan dan anak dengan kemampuan yang kita miliki.

Lakukan TSD jika mengalami atau menyaksikan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Apa itu TSD? TSD adalah langkah nyata yang merupakan singkatan dari Tindakan, Suarakan, dan Doakan. Artinya, kita harus bertindak dengan aksi nyata (melaporkan kepada pihak berwajib) untuk mencegah maupun menangani kekerasan terhadap perempuan dan anak. Selanjutnya adalah kita harus berani suarakan (dalam bentuk tulisan/gambar/lagu/tayangan audio visual) setiap kekerasan terhadap
perempuan dan anak yang terjadi di sekitar kita. Dan yang terakhir, adalah doakan, semoga dunia ini selalu lebih baik ke depannya tanpa kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Sumber: Buku Merdeka dari Kekerasan Yayasan JaRI, Pengalaman Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, Peserta dengan Naskah terbaik Lomba Menulis Yayasan JaRI, Cetakan 1, Maret 2022

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments