
Pernikahan Usia Dini Bukan Solusi
PERNIKAHAN USIA DINI BUKAN SOLUSI Oleh: Mia Rosmiati Sewaktu aku SMP, ada seorang lelaki datang ke kampungku. Dia berjualan obat herbal dari pintu ke pintu. Dia dekat dengan tetanggaku yang seorang guru ngaji. Si lelaki ini, sebut saja Aris, adalah saudara jauh si guru. Ibuku sering membeli obat dari Aris. Dia sering datang ke rumahku, membawa berbagai jenis obat dan membual tentang khasiatnya. Suatu sore, Aris datang ke rumah dengan si guru ngaji. Sebagai pembukaan, si guru ngaji bertanya soal sekolahku, lalu mengatakan bahwa Aris berniat mengawiniku. Si guru ngaji bilang, jika aku kawin dengan Aris, hidupku akan bahagia di dunia dan akhirat. Aku tak perlu bekerja karena Aris akan menghidupiku. Kutolak saat itu juga. Kukatakan bahwa aku tidak suka lelaki itu. Jujur, secara fisik dia bukan tipe lelaki yang kuinginkan. Tubuhnya pendek dan ceking. Napasnya bau dan bibirnya hitam dengan gigi kekuningan. Kulitnya legam terbakar matahari, barangkali karena sering keluar masuk kampung untuk berjualan. Tentu saja, sebagai remaja aku punya angan-angan lelaki macam apa...








