PERNIKAHAN USIA DINI BUKAN SOLUSI Oleh: Mia Rosmiati Sewaktu aku SMP, ada seorang lelaki datang ke kampungku. Dia berjualan obat herbal dari pintu ke pintu. Dia dekat dengan tetanggaku yang seorang guru ngaji. Si lelaki ini, sebut saja Aris, adalah saudara jauh si guru. Ibuku sering membeli obat dari Aris. Dia sering datang ke rumahku, membawa berbagai jenis obat dan membual tentang khasiatnya. Suatu sore, Aris datang ke rumah dengan si guru ngaji. Sebagai pembukaan, si guru ngaji bertanya soal sekolahku, lalu mengatakan bahwa Aris berniat mengawiniku. Si guru ngaji bilang, jika aku kawin dengan Aris, hidupku akan bahagia di dunia dan akhirat. Aku tak perlu bekerja karena Aris akan menghidupiku. Kutolak saat itu juga. Kukatakan bahwa aku tidak suka lelaki itu. Jujur, secara fisik dia bukan tipe lelaki yang kuinginkan. Tubuhnya pendek dan ceking. Napasnya bau dan bibirnya hitam dengan gigi kekuningan. Kulitnya legam terbakar matahari, barangkali karena sering keluar masuk kampung untuk berjualan. Tentu saja, sebagai remaja aku punya angan-angan lelaki macam apa...
Membaca Surat Surat Kartini Kepribadian, kesetaraan dan kebangsaan Oleh: Ilsa Nelwan, Yayasan JaRI Kartini dilahirkan tahun 1879, satu dari 11 anak, dan anak perempuan kedua dari bupati Jepara 1880-1905 raden Mas Adipati Ario Samingun Sosroningrat, anak dari selir Ibu Ngasirah yang keturunan Kiai. Ayahnya menikah lagi karena ketentuan pada zaman itu istri utama haruslah keturunan ningrat. Kartini mulai menarik perhatian publik pada saat ia berumur 19 tahun dan berpartisipasi dalam pameran nasional karya perempuan di Ibukota Belanda Den Haag. Lebih lebih lagi setelah partisipasinya itu tulisan Kartini diterbitkan dalam jurnal ilmiah Belanda Bijdragen tentang perkawinan diantara orang Kodja dan penggunaan celup biru pada proses membatik. Kartini juga memasukkan cerita pendek pada jurnal perempuan kolonial “Dr Echo”: Sehari Bersama Gubernur Jenderal dan Kapal perang di Pelabuhan. Surat surat dan tulisan Kartini penting bukan hanya karena menceritakan tentang seorang perempuan Jawa yang bernama Kartini, tetapi juga memberikan gambaran tentang kolonialisme dan sejarah Indonesia, pada saat munculnya nasionalisme Indonesia. Penulisnya adalah seorang perempuan dan tulisan ini pada waktu...