Mangkuk Retak
Oleh: Ayu Prawita
Pohon bougenville itu datang lagi dalam mimpiku, dan aku merasa sedang berjalan menghampirinya dengan rasa penasaran sekaligus khawatir. Dalam mimpi tersebut, aku ibarat pemeran utama sebuah film dokumenter terburuk yang pernah kulihat sepanjang hidupku.
Aku melihat film itu, yakni layar ketidaksadaranku, menampilkan warna-warni yang kabur, dan aku menilai bahwa bunga bougenville yang berwarna oranye dan langit yang terlihat biru cerah tak bisa berbaur serasi dengan kondisi rumah di belakangnya.
Rumah dengan pohon bougenville itu cantik. Di sana terdapat juga pohon mangga besar dan sebatang pohon kelapa yang jika dilihat dari arah depan nampak sungguh nyaman. Aku sering menceritakan mimpi itu pada suami dan kedua anakku. Namun, suara malaikat dari dalam hatiku seketika membunyikan lonceng tanda bahaya, jika aku bercerita tentang rumah tersebut. Lonceng tersebut selalu mengingatkanku pada sosok mengerikan yang tinggal di dalam rumah itu. Sosok itu mirip dengan rasa nyaman sebuah rumah berjendela besar, padahal keduanya, baik rumah dan sosok itu adalah penipu!
Aku tak mengerti kenapa aku selalu menjerit dan menangis sekeraskerasnya saat melewati kamar belakang—sebelum kamar pembantu, padahal aku biasa tidur di kamar itu waktu kecil. Seketika aku berlari saat menemukan sosok tersebut tersenyum di depanku. Aku meninggalkan rumah kakek secepatnya, sambil menangis ketakutan menuju rumahku yang letaknya di seberang. Ayah dan ibu masih bekerja saat itu dan rumah dalam keadaan kosong. Aku putuskan masuk ke kamar orang tuaku, tetapi kupikir itu semua belum cukup untuk aku bersembunyi.
Aku menutup pintu gerbang, mengunci pintu depan, dan pintu kamar orang tuaku. Semua gorden kututup, lalu kupaksa tubuhku masuk kolong lemari pakaian ibu serta bersembunyi di situ. Sosok jahat itu adalah suami bibiku. Dia mengetuk semua jendela rumahku dan berkata keras-keras bahwa dia tahu aku bersembunyi. Tanganku mengepal mendengar suaranya meski wajahku penuh air mata. Ketakutan dan kemarahan membuatku yakin bahwa berbaring di bawah lemari bersama debu dan serbuk kayu adalah cara menghindar terbaik. Aku yakin bisa melewatinya dengan selamat.
Lamat-lamat aku mengirim pesan pada Tuhan. Aku tak mau sosok itu memaksaku lagi melayani hasratnya. “Sebelas tahun itu waktu yang sangat lama Tuhan. Aku capek dipaksa melayani nafsunya. Aku takut, tapi sekarang sangat aku lelah dan jijik. Aku bukan anak SD lagi yang mudah diiming-imingi permen dan ice cream supaya bisa patuh padanya! Aku sudah SMA dan saatnya aku melawan!”
Suamiku sering kali ikut terbangun saat aku bermimpi buruk. Bougenville itu adalah mimpi buruk yang sudah puluhan kali kutonton saat aku tidur. Setelah melewati belasan tahun perkawinan, dia tak pernah bertanya lagi. Suamiku sudah hafal jalan cerita mimpi tersebut.
“Tapi, aku selalu lari. Aku selalu bisa menghindari kekerasan seksual itu terjadi lagi. Jadi, mimpiku jauh lebih baik dari pada yang sudah kualami bertahun-tahun,” kataku pada banyak dini hari dalam hidupku.
Meski kalimat tersebut kuucapkan berulang kali, sama banyaknya dengan kuantitas mimpiku, suamiku selalu mendengarkan seolah-olah itu fakta baru. Wajahnya selalu menunjukkan empati, seperti baru kali pertama itu dia tahu. Segelas teh panas serta obrolan dengan tema yang sama dari berbagai sudut pandang hingga pagi adalah salah satu terapi yang membuatku tetap waras hingga saat ini.
Temanku seorang psikolog berkata bahwa mimpi adalah salah satu caraku “melawan”. Dia menyarankan aku untuk berdamai dengan mimpi tersebut, bahkan menjadikannya pengingat betapa hebatnya aku telah melewati semua itu.
“Mangkuk retak seperti manusia yang bangkit dan pulih,” katanya. Diksi “pulih” itu berelasi dengan analogi bahwa kondisi mangkuk retak tidak akan sama seperti mangkuk baru, namun di posisi yang sama, aku bisa jauh lebih sensitif dan kritis menilai kondisi sosial di sekitarku. Kata-katanya mengobatiku. Selama 16 tahun aku menjalani profesi sebagai seorang jurnalis, aku merasa kini jauh lebih kuat dengan berbekal pengalaman dari masa lalu. Pengalaman buruk telah membantuku menjawab banyak tantangan sebagai seorang jurnalis perempuan.
Aku sadar bahwa media massa saat ini masih sangat kasar terhadap perempuan. Itu terjadi karena adanya penumpukan pengetahuan maupun kekuasaan di tangan laki-laki sebagai pemegang wacana dominan di internal maupun eksternal media. Kondisi demikian, jelas memengaruhi sudut pandang masyarakat yang juga tidak ramah terhadap perempuan. Mereka adalah “mayoritas senyap”, yang diam saja saat melihat kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak terjadi dimana-mana.
Aku melihat dari sisi internal (redaksi) maupun sisi eksternal (pembaca) media masih didominasi sudut pandang maskulin. Keduanya, cenderung mendorong berita-berita yang menempatkan perempuan sebagai subordinat, seperti berita mengenai jumlah janda yang meningkat, pemerkosaan, perempuan cantik di ruang publik, baju mini, gaya hidup hedon perempuan, dan sejenisnya. Dalam realitas media, representasi perempuan adalah tubuh, bukan kepala. Perempuan adalah objek, sasaran, dan target dari kekerasan seksual.
Jadi perlawananku kini tak cukup dengan mimpi saja. Dengan posisiku sebagai jurnalis, aku sadar bahwa aku bisa lebih aktif melawan kondisi tersebut dengan membuat banyak kontra narasi untuk melindungi perempuan. Aku sungguh berterima kasih pada Tuhan saat melihat “mangkuk retak” itu sampai hari ini masih bisa bekerja dengan baik. Dia duduk di ruang redaksi, berdebat dengan para redaktur laki-laki, berdiskusi dengan para reporternya, untuk mengartikulasikan wacana perlindungan perempuan dan kesetaraan gender di media massa.
Sumber: Buku Merdeka dari Kekerasan Yayasan JaRI, Pengalaman Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, Peserta terbaik Lomba Menulis Yayasan JaRI Juara III, Cetakan 1, Maret 2022