Hampir Menjadi Korban Pelecehan Seksual Karena Kurangnya Kepekaan Orang Tua
Oleh: Rita Primayuni
Awal cerita terjadi ketika saya duduk di kelas lima SD, saya tinggal bersama orang tua, kakek, nenek, dan satu adik laki-laki. Keluarga saya tidak pernah melakukan kekerasan seksual kepada anak-anak, namun orang lain yang justru hamper melakukan itu kepada saya. Kejadiannya dilakukan oleh seorang laki-laki tua, pemilik warung sembako dekat rumah. Sebut saja dia “Pak Agung” (nama samaran). Saat itu, ibu menyuruh saya untuk membeli satu kilogram beras di warung tersebut. Ketika saya menyerahkan uang, tangan saya dipegang kencang oleh Pak Agung. Spontan saya menarik tangan, dan segera pulang ke rumah.
Kemudian saya cerita ke ibu kalau tangan saya dipegang kencang oleh Pak Agung, namun ibu malah mengatakan, “Palingan Pak Agung bercanda”, dan saya mengiyakan saja. Keesokan harinya, ibu kembali menyuruh saya untuk membeli telur di sana. Tiba-tiba Pak Agung berkata, “Rita ke kamar yok, istri bapak sedang ke pasar. Rita kan masih anak SD, belum menstruasi jadi gak akan hamil”. Saya langsung ketakutan, terburu buru mengambil telur yang sudah dibungkus dan menaruh uang di atas tumpukan kardus minuman soda. Sesampainya di rumah, saya kembali cerita ke ibu kalau saya mau diajak ke kamar oleh Pak Agung dan saya tidak mau lagi disuruh membeli barang di warung itu karena takut. Akhirnya, saya memilih untuk tidak belanja di sana lagi dan memilih warung lain yang jaraknya lebih jauh dari rumah jika harus membeli keperluan sehari-hari supaya terhindar dari Pak Agung.
Singkat cerita, ketika saya duduk di kelas satu SMP, saya belanja kembali di warung Pak Agung karena merasa capek harus berjalan kaki untuk belanja ke warung yang cukup jauh dari rumah. Saya harus membantu ibu membeli keperluan untuk bahan baku pembuatan kerupuk untuk dijual. Tapi saya berjanji pada diri sendiri, bahwa saya akan menjaga diri dengan cara apa pun, berteriak atau menendang organ vital Pak Agung jika ia berani berulah lagi. Namun ternyata ketika saya tiba di warungnya, Pak Agung sedang jatuh sakit dan sudah tidak bisa bangun dari tempat tidurnya sehingga istrinya yang menjaga warung setiap hari.
Saat ini, saya sudah menjadi seorang mahasiswa. Saya tumbuh menjadi orang yang sangat sensitif dengan hal-hal yang berhubungan dengan pelecehan seksual, dan sangat tidak suka ketika orang dewasa memperlakukan anak kecil seenaknya saja. Saya juga benci ketika ada orang tua yang tidak peka dan menganggap bahwa pelecehan seksual adalah sebuah candaan belaka.
Bahkan saya pernah bertengkar dengan seorang bapak yang sudah memiliki cucu. Bapak tersebut mengganggu saudara saya, panggil saja “Rini” (nama samaran). Saya melihat bapak itu mencium bibir Rini kemudian berkata, “Coba buka celananya, pakai celana dalam atau enggak?” Saya kesal karena orang dewasa di sekitar kami menganggap kejadian tersebut adalah hal yang wajar, sehingga mereka hanya diam saja. Tapi untuk saya? Jujur, entah saya yang terlalu berlebihan atau bagaimana karena ketika saya melihat bapak tersebut mencium bibir Rini dalam waktu yang lama dan terlihat menikmatinya, ditambah dengan perkataan yang tidak mengenal privasi anak adalah hal yang tidak wajar. Saya berteriak dan marah hingga semua orang kaget. Saya berkata, “Jangan, Rini baru anak kecil, ada orang mencium bibirnya dengan ekspresi nafsu seperti ini, namun semuanya diam saja! Untuk bapak, saya sangat menghormati bapak. Namun, perbuatan seperti ini tidak boleh dilakukan kepada siapa pun selain istri bapak. Jika bapak melakukan itu lagi, saya akan laporkan!”
Kejadian itu terjadi ketika saya bersama keluarga besar berkumpul untuk membantu persiapan odalan (acara suci agama hindu). Saya akhirnya memberi tahu apa yang pernah saya alami dulu dan bagaimana saya berjuang sendiri untuk melindungi diri. Saya sangat trauma hingga hari ini dan menjadi sensitif ketika melihat orang dewasa berpotensi melakukan pelecehan seksual. Saya meminta kepada semua keluarga besar untuk tidak menyepelekan hal-hal seperti itu, dianggap bercanda dan berpikir bahwa semua orang dewasa itu aman untuk anak-anak. Saya minta mereka agar sadar bahwa anak memiliki privasi terhadap dirinya dan tidak semua aduan anak adalah sebuah candaan. Saya jugamenyarankan mereka untuk mengajarkan pada anak terkait apa yang boleh dan tidak boleh orang lain lihat dan sentuh di badannya. Saya bersyukur pernah mengalami pelecehan seksual, sehingga setidaknya hari ini saya bisa melindungi orang-orang di sekitar jika terjadi hal yang tidak pantas. Saya berharap, semua orang tua peka dan rutin bertanya tentang kondisi anaknya, dan semua anak bisa mengadu kepada orang tuanya tentang hal yang dialaminya.
Sumber: Buku Merdeka dari Kekerasan Yayasan JaRI, Pengalaman Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, Peserta terbaik Lomba Menulis Yayasan JaRI Juara I, Cetakan 1, Maret 2022