gender equality

gender equality

The fight for gender equality in IndonesiaThe story of the journey of the Independent Network of Volunteers FoundationBy Ilsa NelwanThe Independent Network of Volunteers Foundation or JaRI (Jaringan Relawan Independen) was initially established in 1998 by people with the professions of doctors, psychologists, and other social backgrounds who wanted to help communities and the nation in creating a healthy and peaceful social environment. During the “reformation struggle” of1997-1998 a group of professionals in Bandung supported the university students that were harassed by the military regime. This group organized first aid trainings on campuses, and smuggled out some of the students who needed hospital care. When the reformation took place and the students were safe, this group decided to continue the struggle against violence. JaRI was established in February 1998, and specifically focussed to fight Violence against Women and Children. The first activity was to organize a national seminar on what should be done for rape victims. This was an expression of anger...
Read More
International Women’s Day

International Women’s Day

Memperingati International Women’s Day dengan Yayasan JaRI Bandung 8 Maret 2024 Oleh: Ilsa Nelwan dr, MPH *) “Inspire inclusion” adalah tema kampanye International Women’s Day tahun 2024. International Women’s Day pertama kali dicetuskan di PBB tahun 1975 dan tahun 1977 dinyatakan dalam resolusi PBB sebagai hari untuk memperingati hak perempuan dan perdamaian internasional. Inspireinclusion adalah bagaimana bisa menginspirasi semua orangu ntuk memahami dan menghargai inklusifitas, dilibatkannya perempuan untuk dunia yang lebih baik. Artinya kita menekankan pentingnya keragaman dan pemberdayaan dalam semua aspek di tengah masyarakat. JaRI bersama FH UNPAD, Rumah kebangsaan dan Alumni FH UNPAD menggunakan momentum International Women’s Day ini untuk menginspirasi masyarakat tentang peranan Undang undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) no 12 tahun 2022, untuk mengatasi kekerasan seksual, kekerasan berbasis gender. Keempat pembicara (Dr Nella Sumika Putri SK MH; Erika Widyaningsih; Sely Martini MSRDP; Yasmin MusiAkbari SH) mengungkapkan butir butir penting, diantaranya: UU TPKS sebenarnya melindungi korban yang tidak selalu perempuan, pentingnya...
Read More
Perempuan berdaya Indonesia maju

Perempuan berdaya Indonesia maju

Penerapan “Perempuan berdaya Indonesia maju” Dalam peringatan hari Ibu 2023 di Yayasan JaRI Oleh : Ilsa Nelwan, dr, MPH Pendahuluan Kementerian PPA memilih tema “Perempuan berdaya, Indonesia maju” dengan sub tema: Perempuan bersuara, berani mengemukakan aspirasi, gagasan dan ide untuk kenajuan Bangsa. Perempuan berdaya dan berkarya secara ekonomi, sosial budaya, berperan dalam pengambilan keputusan melalui karya nyata. Perempuan peduli, memiliki kepedulian dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Perempuan dan Revolusi, berkontribusi dalam perubahan dan dinamika untuk kemajuan bangsa. Sejarah panjang gerakan perempuan Indonesia yang dimulai tahun 1928 dengan pembentukan organisasi federasi independen, Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia (PPPI). Namun setelah 1965 pemerintah meletakkan perempuan ditengah masyarakat hanya sebagai istri dan Ibu yang bisa “diarahkan” oleh negara. Bersyukur saat ini sudah terlihat kemajuan dengan adanya Komnas perempuan dan berbagai kegiatan di masyarakat yang mengakui perempuan sebagai pribadi. Tema dan subtema Kemen PPA sangat tepat, mengingat perempuan merupakan sekitar 50 persen penduduk di Indonesia, dalam kenyataannya masih menjadi “warga kelas dua” tidak setara. Mengapa kesetaraan penting? Negara negara dengan indeks kesetaraan yang...
Read More
Aku dan Sahabatku

Aku dan Sahabatku

Aku dan Sahabatku Oleh: AFPanggil saja aku Bulan, dan perkenalkan sahabatku Bintang. Kami adalah mahasiswi semester akhir yang sedang berjuang untuk mengenakan toga di penghujung tahun. Karena satu kelas di kampus dan satu kamar di asrama, kami selalu bersama seperti sepasang sandal. Di mana sandal bagian kanan tak terpisahkan dengan bagian kirinya.Singkat kata, aku berhasil menyelesaikan tugas akhir dengan baik. Sayangnya, tugas akhir Bintang masih jalan di tempat. Aku orang yang berpendapat meskipun deadline pekerjaan masih jauh, tapi menunda pekerjaan hari ini sama saja dengan menumpuk masalah untuk esok hari. Akhirnya dengan senang hati, aku membantu dan memotivasi Bintang agar semangat lagi.Aku mendampingi Bulan mulai dari mengunjungi perpustakaan, mencari data pendukung, mengantar bimbingan ke dosen pembimbing, hingga menemani revisi semalaman. Sebelumnya, aku disibukkan dengan tugasku sendiri, sekarang setelah tugasku selesai, kini aku lebih focus membantu Bintang. Berhari-hari aku perhatikan, kemajuan tugas akhir bintang tidak terlihat signifikan. Padahal berjam-jam aku di sampingnya, memastikan ia menyelesaikan impiannya. Ada yang aneh pada diri Bintang,...
Read More
Mangkuk Retak

Mangkuk Retak

Mangkuk Retak Oleh: Ayu Prawita Pohon bougenville itu datang lagi dalam mimpiku, dan aku merasa sedang berjalan menghampirinya dengan rasa penasaran sekaligus khawatir. Dalam mimpi tersebut, aku ibarat pemeran utama sebuah film dokumenter terburuk yang pernah kulihat sepanjang hidupku. Aku melihat film itu, yakni layar ketidaksadaranku, menampilkan warna-warni yang kabur, dan aku menilai bahwa bunga bougenville yang berwarna oranye dan langit yang terlihat biru cerah tak bisa berbaur serasi dengan kondisi rumah di belakangnya. Rumah dengan pohon bougenville itu cantik. Di sana terdapat juga pohon mangga besar dan sebatang pohon kelapa yang jika dilihat dari arah depan nampak sungguh nyaman. Aku sering menceritakan mimpi itu pada suami dan kedua anakku. Namun, suara malaikat dari dalam hatiku seketika membunyikan lonceng tanda bahaya, jika aku bercerita tentang rumah tersebut. Lonceng tersebut selalu mengingatkanku pada sosok mengerikan yang tinggal di dalam rumah itu. Sosok itu mirip dengan rasa nyaman sebuah rumah berjendela besar, padahal keduanya, baik rumah dan sosok itu adalah penipu! Aku tak mengerti kenapa aku...
Read More
Ibu Bilang Tidak Apa-Apa Kalau Ayah Memukul

Ibu Bilang Tidak Apa-Apa Kalau Ayah Memukul

Ibu Bilang Tidak Apa-Apa Kalau Ayah Memukul Oleh: RJ Saat saya bertanya kepada ibu kenapa ia bertahan, jawaban beliau klise, “Karena kamu dan kakakmu.” Waktu itu saya percaya, bahwa bertahan karena alasan anak adalah satu-satunya jalan yang tersedia bagi korban KDRT. Tidak apa-apa dipukul, mendapat kekerasan psikis, bahkan seksual, asalkan ada anak sebagai jaminan keutuhan rumah tangga. Ketika melihat ibu dijambak, dibentak, dan diseret, sempat tertanam dalam kepala saya bahwa perlakuan tersebut adalah bagian dari “peran” seorang ibu di dalam rumah. Yang membuat saya kecewa dan marah adalah tidak ada seorang pun yang memberitahu kalau kekerasan yang saya saksikan adalah salah dan tidak sepatutnya seorang istri diperlakukan demikian. Bahkan ibu memilih diam seribu bahasa, meninggalkan saya dengan trauma dan jawaban yang harus saya cari sendiri. “Mengapa seorang ibu tidak menjelaskan dengan gamblang apa yang sebenarnya terjadi?” adalah pertanyaan yang timbul dan butuh waktu lama bagi saya untuk mencernanya dalam kepala. Dahulu, sulit untuk saya memahami posisi korban kekerasan. Saya gagal mempertimbangkan bahwa ibu saya...
Read More
Hampir Menjadi Korban Pelecehan Seksual

Hampir Menjadi Korban Pelecehan Seksual

Hampir Menjadi Korban Pelecehan Seksual Karena Kurangnya Kepekaan Orang Tua Oleh: Rita Primayuni Awal cerita terjadi ketika saya duduk di kelas lima SD, saya tinggal bersama orang tua, kakek, nenek, dan satu adik laki-laki. Keluarga saya tidak pernah melakukan kekerasan seksual kepada anak-anak, namun orang lain yang justru hamper melakukan itu kepada saya. Kejadiannya dilakukan oleh seorang laki-laki tua, pemilik warung sembako dekat rumah. Sebut saja dia “Pak Agung” (nama samaran). Saat itu, ibu menyuruh saya untuk membeli satu kilogram beras di warung tersebut. Ketika saya menyerahkan uang, tangan saya dipegang kencang oleh Pak Agung. Spontan saya menarik tangan, dan segera pulang ke rumah. Kemudian saya cerita ke ibu kalau tangan saya dipegang kencang oleh Pak Agung, namun ibu malah mengatakan, “Palingan Pak Agung bercanda”, dan saya mengiyakan saja. Keesokan harinya, ibu kembali menyuruh saya untuk membeli telur di sana. Tiba-tiba Pak Agung berkata, “Rita ke kamar yok, istri bapak sedang ke pasar. Rita kan masih anak SD, belum menstruasi jadi gak akan...
Read More
Merayakan Hari Perempuan Sedunia 2023

Merayakan Hari Perempuan Sedunia 2023

Merayakan Hari Perempuan Sedunia 2023 ​Oleh: Ilsa NelwanHari perempuan internasional diperingati setiap tanggal delapan maret untuk memperingati demonstrasi buruh perempuan di New York pada tahun 1857,1907 dan 1909. PBB mulai memperingati Hari Perempuan Internasional mulai 8 Maret 1975 yang diikuti oleh penetapan Hari Perempuan Sedunia 8 Maret 1977.International Women’s day (IWD) berasal dari Gerakan buruh AS pada tahun 1908 dimana 1500 buruh turun ke jalan di New York untuk menuntut jam kerja yang lebih singkat, upah yang layak dan hak untuk memilih. Gagasan untuk menetapkan tanggal 8 Maret sebagai IWD datang dari Clara Zetskin seorang aktivis hak perempuan pada konperensi internasional pekerja perempuan di Copenhagen tahun 1910. Ada 100 orang peserta dari 17 negara yng seluruhnya setuju pada usul tersebut.Tema Hari Perempuan sedunia tahun 2023 adalah #EmbraceEquity atau jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah #RangkulKesetaraan. Artinya kita semua dapat menentang stereotip gender, menentang diskriminasi, menarik perhatian pada bias, dan mengupayakan inklusi. Hal ini dapat dilakukan dengan aktivisme kolektif untuk mendorong perubahan. Tema...
Read More
Kesetaraan sebagai Nilai Dasar Kebangsaan

Kesetaraan sebagai Nilai Dasar Kebangsaan

Kesetaraan sebagai Nilai Dasar Kebangsaan Kesetaraan sebagai Nilai Dasar Kebangsaan Renungan Hari Ibu 2022, Inspirasi untuk Perempuan Indonesia Oleh : Ilsa Nelwan * Hari Ibu di Indonesia ditetapkan untuk memperingati Kongres Perempuan yang pertama di Yogyakarta 22 Desember 1928, menunjukkan bahwa gerakan perempuan Indonesia tidak terpisahkan dari perjuangan kebangsaan. Melalui kongres-kongresnya organisasi perempuan Indonesia berusaha menumbuhkan generasi baru perempuan yang sadar akan kebangsaannya, termasuk menyetujui azas perkawinan modern, membahas masalah buruh perempuan dan anak, juga mempromosikan hak pilih perempuan. Di masa pasca kemerdekaan muncul berbagai organisasi perempuan di antaranya Gerakan Wanita Sedar (GERWIS) yang kemudian berubah menjadi Gerakan Wanita Indonesia (GERWANI). Semula organisasi ini memperjuangkan hak perempuan misalnya dalam perkawinan, kekerasan seksual dan kawin paksa, kemudian lebih fokus pada membangun gerakan masa, memperjuangkan sosialisme terlebih dulu sebelum memperjuangkan hak perempuan secara spesifik. Di awal masa Orde Baru gerakan perempuan mengalami kemunduran. Dimulai dengan tuduhan bahwa GERWANI bertanggung jawab atas pembunuhan tujuh orang jenderal di lubang buaya. Kemudian pelan tapi pasti organisasi ini diberangus, aktivisnya ditangkap, dibuang atau dibunuh....
Read More
‘Jilbab’ and head lice: How can religion address poverty?

‘Jilbab’ and head lice: How can religion address poverty?

'Jilbab' and head lice: How can religion address poverty? Lies Marcoes (The Jakarta Post) PREMIUM Jakarta Tue, September 6, 2022 'Jilbab' and head lice: How can religion address poverty? A hijab or 'jilbab'-wearing fourth-grader in the Central Java city of Karanganyar went viral on social media in the final week of August after her teacher helped her remove head lice and nits from her hair. The teacher explained that the girl’s mother, a scavenger, knew the girl had lice, but she was too busy earning a living to deal with the problem. This story is enough to make anyone’s hair stand on end. But for people who often visit villages, seeing lice in children’s hair is unsurprising. In the least developed regions where water is scarce, such as in the eastern part of Indonesia, I often encounter children and adults with head lice. Head lice live in dirty, damp hair. In 1984, while doing research in Bandung on the culture of poverty, I lived in...
Read More